Kompas.com - 17/01/2022, 23:00 WIB

KOMPAS.com - Seorang wanita di Tokyo, Jepang mengajukan gugatan terhadap donor sperma.

Wanita berusia 30 tahun yang tidak disebutkan namanya itu menuding, pria tersebut memalsukan identitas status sipil, latar belakang pendidikan, dan juga etnis.

Awalnya, ia bersama suaminya berencana memiliki anak kedua. Namun, rencana itu sulit terwujud lantaran ada masalah keturunan pada sang suami.

Setelah memutuskan untuk memeroleh bayi dengan menggunakan donasi sperma, pasangan suami istri itu mencari donor di media sosial.

Mereka berhasil menemukan seorang donor, yakni pria Jepang berusia 20-an tahun yang mengaku lajang dan lulusan dari Kyoto University.

Di kemudian hari, wanita tersebut mengetahui bahwa donasi sperma yang diterimanya adalah pria berkewarganegaraan China yang sudah menikah dan tidak pernah kuliah di Kyoto University.

Baca juga: Pria Ini Tawarkan Donasi Sperma untuk Miliki Banyak Anak

Pasca melahirkan, ia dan suaminya menyerahkan bayi itu ke pusat anak di Tokyo.

Wanita ini lantas menuduh sang donor memberikan informasi palsu.

Sekarang, dia menuntut ganti kerugian sebesar 2,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 40 miliar, sebagai kompensasi untuk tekanan emosional yang dia rasakan.

Di bawah undang-undang "hak untuk mengetahui" di Jepang, keturunan dari donor sperma memiliki hak untuk mengetahui siapa orangtua mereka.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.