Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

OCD Bisa Diturunkan secara Genetik, Ini Cara Mengurangi Risikonya

Kompas.com - 04/12/2023, 15:22 WIB
Dinno Baskoro,
Wisnubrata

Tim Redaksi

Sumber treatmyocd

KOMPAS.com - Obsessive compulsive disorder atau OCD merupakan jenis gangguan mental yang membuat penderitanya melakukan tindakan tertentu berulang kali.

Banyak studi yang menunjukkan, faktor genetik memainkan peran penting dalam perkembangan OCD sehingga gejalanya dapat menurun pada masa kanak-kanak hingga remaja.

Lantas, seberapa besar faktor risiko keturunan ini memengaruhi OCD pada keluarga? Adakah cara untuk menekan risiko OCD akibat genetik? Coba simak beberapa ulasan berikut ini.

Baca juga: Screen Time Anak Berlebihan Bisa Picu Risiko OCD 15 Persen 

Faktor genetika dan OCD

Beberapa penyakit memang lebih banyak dipengaruhi oleh genetika, misalnya kanker payudara dan gen BRCA, begitu pun pada OCD.

Namun, sebenarnya faktor genetik bukan satu-satunya mutlak dan menjadi penyebab OCD. Itu berarti, gangguan mental yang dialami orangtua atau kerabat keluarga yang terkena OCD masih memungkinkan untuk tidak menurun ke anak atau kerabat keluarga yang lain.

Hal itu pun telah terbukti melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatric Clinics of North America. Para ahli mengamati 15 penelitian sebelumnya terkait OCD, genetika, dan riwayat keluarga.

Riset itu pun menemukan fakta yang contohnya ditunjukkan pada studi anak kembar.

Kata peneliti, bila salah satu di antara anak kembar mungkin mengalami OCD, secara signifkan gangguan itu bisa membuat saudara kembarnya mengalami gangguan mental yang sama.

Para ahli mengatakan, kondisi ini menjelaskan tingginya risiko perkembangan OCD akibat genetik pada anak kembar identik sebab kembar identik hampir memiliki 100 persen kode gen yang sama.

Sementara itu, faktor risiko genetik OCD pada kembar non-identik persentasenya hanya 50 persen. Memang, beberapa gen yang telah teridentifikasi dan mungkin berkontribusi dalam perkembangan OCD.

Namun, Gerald Nestadt, MD, MPH, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di The Johns Hopkins University School of Medicine, mengatakan, pola pewarisannya risiko itu cukup rumit.

"Peluang anak Anda terkena OCD tergantung pada variasi gen yang mereka warisi serta kombinasinya."

"Dari sana, lingkungan memiliki pengaruh lebih lanjut untuk menentukan apakah kerentanan genetik ini bermanifestasi atau berkembang sebagai OCD," jelas dr. Nestadt.

Baca juga: 8 Perawatan Diri yang Sederhana bagi Penderita OCD 

 

Ilustrasi ibu dan anak laki-lakinya Ilustrasi ibu dan anak laki-lakinya

Lingkungan tingkatkan risiko OCD

Risiko perkembangan OCD tak cuma dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi juga lingkungan.

Kata ahli, kondisi itu dapat dipengaruhi oleh banyak hal seperti trauma masa kecil, stres berkepanjangan, gangguan kesehatan, hingga pola perilaku yang terlihat berulang dalam keluarga.

Sebagai gambaran pada kasus perilaku orangtua yang memiliki OCD dengan aksi mencuci tangan secara kompulsif.

Seorang anak atau anggota keluarga yang terpapar atau melihat kegiatan ini terus-menerus tentu mereka akan melakukan hal yang sama.

Begitu pula ketika seorang anak terus mengetahui kalau memasang wajah konyol dapat merasa aktivitas itu dapat menghibur orang tuanya.

Kemungkinan mereka belajar melakukan perilaku kompulsif itu diakibatkan kebiasaan mereka yang melihat orangtuanya melakukan hal serupa.

Melihat fakta tersebut, bagaimana upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko OCD gara-gara faktor genetika?

Mengurangi risiko OCD

dr. Nestadt menyebutkan, jika sudah menyadari ada anggota keluarga mewarisi OCD dari faktor genetik, hindari menyalahkan diri sendiri.

Faktor genetik bukanlah sesuatu yang bisa kita kontrol, tetapi orangtua bisa mengurangi risikonya dengan menerapkan lingkungan positif.

"Untungnya ada pilihan pengobatan tersedia untuk membantu orang dalam mengatasi gejalanya."

"Faktanya, pendekatan yang sama pada orang dewasa dalam mewalan OCD dan menghentikan perilaku kompulsif juga berhasil untuk anak-anak," jelas dia.

Langkah terpenting lainnya, orangtua atau anak perlu mendapatkan diagnosis yang tepat.

Sering kali, gejala OCD pada anak-anak mungkin hanya dilihat sebagai respons yang tidak disadari.

"Jika orangtua melihat tanda-tanda perilaku kompulsif menurun ke anak atau keluarga, ini adalah momen yang tepat untuk mencari pengobatan," papar dr. Nestadt.

Salah satu contoh penanganan risiko ini adalah terapi paparan dan pencegahan respons (ERP).

Pada terapi ini, seorang terapis akan mengatasi obsesi pada anak untuk menahan segala keinginan agar tidak terlibat dalam perilaku kompulsif mereka.

Seiring waktu, anak akan belajar bagaimana merasakan ketakutan tanpa tergantung pada dorongan untuk meredakan ketidaknyamanan melalui tindakan yang keliru.

Baca juga: Bermain Gadget Ternyata Bisa Jadi Penyebab OCD pada Anak 

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com