Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/06/2024, 19:02 WIB
Nabilla Tashandra

Editor

KOMPAS.com - Sifat malas seringkali dicap sebagai hal yang negatif. Faktanya, tidak semua sifat malas itu buruk.

Bahkan, salah satu kutipan populer dari pendiri Microsoft, Bill Gates mengatakan bahwa dirinya selalu memilih orang "malas" untuk melakukan pekerjaan sulit.

"Sebab orang malas akan menemukan cara mudah (efisien) untuk melakukan pekerjaan itu," demikian potongan kutipan tersebut, seperti dilansir dari CNBC.

Meskipun, apakah benar Bill Gates pernah mengatakannya, masih dipertanyakan. Terlepas dari kebenarannya, anggapan tersebut ada benarnya.

Baca juga:

Tapi, benarkah orang malas lebih pintar? Kecerdasan dan rasa malas memiliki relasi yang kompleks dan ada banyak faktor yang membentuk intelektualitas seseorang. Berikut penjelasannya.

Orang malas lebih pintar, benarkah?

Dikutip dari Your Tango, menurut para peneliti dari Florida Gulf Coast University setelah melakukan riset kelompok pada 2016, orang yang lebih pintar juga lebih malas karena orang-orang tersebut memiliki rentang perhatian yang lebih panjang.

Studi mereka menyebutkan temuan dari sebuah penelitian di Amerika Serikat yang mendukung gagasan bahwa orang dengan IQ tinggi tidak mudah bosan, sehingga mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir.

Sementara orang-orang yang bukan pemikir lebih mudah bosan, jadi mereka perlu mengisi waktu dengan aktivitas fisik.

Orang-orang dengan IQ tinggi tersebut tidak selalu butuh bergerak untuk mencari bentuk stimulasi berikutnya.

Artinya, mereka bisa saja duduk di rumah berjam-jam dan mengisinya dengan membaca, tidur siang, dan berpikir, sementara orang yang "kurang cerdas" mungkin merasa perlu untuk sering-sering keluar, misal berjalan-jalan, agar pikirannya lebih tenang.

Baca juga:

Meskipun penelitian tersebut bagus, menjalani kehidupan tidak aktif (sedentary lifestyle) sangat buruk bagi keseahtan.

Namun, kesadaran akan kecenderungan para orang pintar untuk bermalas-malasan seharusnya menjadi dorongan bagi mereka untuk keluar dari kebiasaan gaya hidup sedentary tersebut.

Rasa malas sebagai "penyaring"

Michael Lewis, penulis buku terlaris "Moneyball" dan "The Big Short" mengatakan, dirinya tidak bisa menghindari sebutan pemalas tersebut.

Bahkan, dia mengaitkan sebagian besar kesuksesannya secara langsung dengan rasa malas.

"Kemalasan saya berfungsi sebagai penyaring," katanya dalam sebuah wawancara bersama CEO perusahaan survei online Qualtrics, Ryan Smith, seperti dilansir dari CNBC.

"Sesuatu harus benar-benar bagus sebelum saya memutuskan untuk mengerjakannya," lanjutnya.

Persepsi Lewis tentang kemalasan adalah apa yang bisa disebut sebagai "kemalasan palsu". Maksudnya, fakta bahwa kemalasannya berkontribusi pada kesuksesannya mematahkan stereotip negatif orang pemalas.

Video game adalah contoh lain dari "kemalasan palsu". Permainan ini sering dilihat sebagai aktivitas tanpa pikiran yang dinikmati oleh orang-orang malas. Namun, siapa pun yang pernah memainkan Fortnite, misalnya, tahu betul bahwa permainan ini membutuhkan pemikiran strategis dan pemecahan masalah yang cukup banyak.

Baca juga:

CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk bahkan dikenal sebagai pemain game yang produktif dan tentu saja sulit membayangkan ada orang yang mencapnya sebagai pemalas.

Dengan jam kerja lebih dari 100 jam per minggu dan bertahun-tahun tanpa liburan, Musk telah membangun setidaknya enam perusahaan yang sangat sukses. Membuatnya jauh dari kata "tidak cerdas".

Adapula CEO Facebook Mark Zuckerberg dan pendiri Google Larry Page, individu sukses lainnya yang gemar bermain video game. Sekali lagi, kedua orang ini sama sekali tidak malas atau tidak cerdas.

Intinya adalah bahwa "malas" adalah kata yang memiliki arti luas. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa kita bisa lebih memperhatikan kualitas dalam diri seseorang yang membuat kita membuat penilaian tersebut.

Sementara itu, kita mungkin perlu mempertimbangkan untuk menerima aspek positif dari kemalasan dalam diri kita sendiri.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KOMPAS Lifestyle (@kompas.lifestyle)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com