Salin Artikel

Apakah Tes MBTI Akurat untuk Mengukur Kepribadian Seseorang?

KOMPAS.com - Perbincangan soal tipe kepribadian manusia tak luput dari banyaknya orang yang merasa sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya, baik dengan teman sekolah, keluarga, maupun teman di kantor.

Ada yang menilai dirinya sulit beradaptasi, tidak mampu bekerja dengan baik, kesulitan dalam berkomunikasi, hingga tidak bisa memahami perintah yang diberikan.

Alhasil, mereka yang merasakan hal tersebut, ramai-ramai melakukan tes psikologi untuk mengetahui jenis kepribadiannya.

Dari sekian banyak tes psikologi yang banyak diikuti, MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator menjadi salah satu yang paling populer. 

Apakah itu tes MBTI?

Singkatnya, tes ini diprakarsai oleh Isabel Myers dan Katherine Briggs. Keduanya mengembangkan tes MBTI pada medio 1940-an berdasar teori tipe kepribadian yang pernah dikemukakan Carl Jung.

Myers dan Briggs lantas membuat penelitian guna mencari perbedaan dari kepribadian tiap individu saat Perang Dunia II masih berlangsung.

Peserta yang ikut dalam penelitian pertama mereka adalah sanak keluarga dan teman Myers dan Briggs. Mereka mengisi daftar kuisioner yang diberikan dengan pensil dan bolpoin.

Penelitian itu dilakukan sebab keduanya ingin membantu orang dalam memilih pekerjaan yang paling sesuai dengan tipe kepribadiannya, sehingga dapat menjalani hidup secara lebih sehat dan bahagia.

Myres dan Briggs juga ingin respondennya dapat mengeksplorasi dan memahami kepribadian mereka, termasuk mengetahui kesukaan, ketidaksukaan, kelemahan, dan kekuatan.

Keduanya menyimpulkan tidak ada tipe kepribadian yang "terbaik" atau yang "paling baik" dari yang lain. Sebabnya, MBTI bukanlah tolok ukur untuk menilai disfungsi atau keabnormalan pada seseorang.

Dan hasilnya, Myers dan Briggs berhasil mengidentifikasi berbagai macam tipe kepribadian manusia yang kemudian dikelompokkan menjadi empat domain yang masih terbagi atas dua jenis.

Empat domain yang berhasil diidentifikasi Myers dan Briggs, meliputi:

1. Extraversion (E)–Introversion (I)

Dikotomi dari extraversion-introversion pertama kali diulik oleh Jung dalam teorinya soal tipe kepribadian manusia untuk mengidentifikasi bagaimana respons seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Extraversion atau yang sering disebut ekstrovert adalah kecenderungan sikap dan tindakan seseorang saat berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Saat menjalin interaksi, orang ekstrovert akan merasa sangat bersemangat dan menikmati interaksi sosial. Biasanya juga, orang ekstrovert suka melakukan kegiatan secara kolektif, seperti berorganisasi, makan bersama, atau nongkrong.

Berkebalikan dengan ekstrovert, introversion atau yang sering disebut introvert justru punya kecenderungan menikmati interaksi sosial secara mendalam dan bermakna.

Orang introvert juga dikenal berorientasi pada pemikiran dan merasa dirinya terisi penuh setelah menghabiskan waktu seorang diri.

2. Sensing (S)–Intuition (N)

Skala ini melibatkan menentukan bagaimana seseorang mengumpulkan informasi dari lingkungan sosial di sekitanya.

Sama halnya dengan extraversion-introversion, semua orang yang menghabiskan waktu guna merasakan dan berintuisi menggantungkan dirinya pada situasinya. Menurut MBTI, orang cenderung dominan di satu bidang atau lainnya.

Orang yang lebih menyukai sensing memiliki kecenderung memberikan banyak perhatian pada kenyataan, khususnya untuk yang dapat mereka pelajari dari indra mereka sendiri. Oleh sebab itu, orang-orang yang demikian suka belajar dengan cara mempraktikkan segala sesuatunya secara langsung.

Sedangkan, orang yang menyukai intuition memberi perhatian lebih pada suka membayangkan masa depan dan berpikir secara abstrak.

3. Thinking (T)–Feeling (F)

Skala ini berfokus terhadap cara orang mengambil keputusan sesuai informasi yang mereka terima dari penginderaan atau intuisi mereka. Orang yang suka berpikir lebih menekankan pada fakta dan data objektif.

Orang yang suka berpikir lebih cenderung konsisten, logis, dan impersonal ketika menimbang keputusan.

Berkebalikan dengan hal itu, orang yang lebih menyukai feeling atau perasaan punya kecenderungan mempertimbangkan orang dan emosi ketika hendak mengambil suatu kesimpulan.

4. Judging (J)–Perceiving (P)

Skala terakhir ini menentukan cara seseorang saat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Apakah mereka termasuk orang yang condong ke arah penilaian lebih menyukai struktur dan keputusan yang tegas atau orang yang condong ke arah persepsi lebih terbuka, fleksibel, dan mudah beradaptasi.

Tipe kepribadian menurut MBTI

Dari empat domain yang berhasil dikelompokkan itu, lantas dibagi menjadi 16 tipe kepribadian yang berbeda-beda dengan penggabungan huruf awal E-I-S-N-T-F-J-P.

Berikut tipe-tipenya:

ISTJ - inspektur

ISTP - sang perajin

ISFJ - sang pelindung

ISFP - artis/ seniman

INFJ - sang pengacara

INFP - mediator

INTJ - arsitek

INTP - sang pemikir

ESTP - sang pembujuk/ perayu

ESTJ - pengarah

ESFP - performer

ESFJ - sang pengasuh

ENFP - sang juara

ENFJ - pemberi

ENTP - pendebat

ENTJ - komandan/ pemimpin

Untuk dapat mengetahui tipee kepribadian dengan tes MBTI, seseorang sebenarnya dapat berkonsultasi kepada psikolog. Hanya saja di era yang sudah serba modern ini kita dapat mengaksesnya di internet pada situs konsultasi psikologis-kesehatan.

Apakah tes MBTI akurat?

Adam Grant, seorang profesor psikologi di Wharton School University of Pennsylvania, AS pada tahun 2019 lalu sempat mengemukakan keraguannya pada tes MBTI.

Alasannya, tidak ada dasar yang kuat untuk mengecek validitas empat domain yang digunakan Myers dan Briggs.

"Tes yang menggunakan empat domain itu, apakah kategorinya dapat diandalkan, valid, independen, dan komprehensif? Untuk MBTI, buktinya mengatakan tidak terlalu, tidak, tidak, dan tidak juga," ujar Grant.

Pendapat serupa juga diutarakan penulis "The Personality Brokers" Merve Emre, yang sudah mengulik sejarah MBTI.

Ia mengatakan, kesalahan tes MBTI terletak pada penciptanya, yaitu Myers dan Briggs. Sebab, kedua orang itu meerupakan pengagum teori tipe kepribadian Jung.

Selain itu, Emre menyebut keduanya mendasarkan tes MBTI pada ledakan jumlah buruh saat Perang Dunia II, yang ketika itu mereka menyusun kuesioner untuk menentukan pekerjaan yang paling sesuai dengan kepribadian para buruh

“Ini benar-benar proses yang sangat tidak ilmiah,” kata Emre.

Kendati demikian, tes MBTI masih dipakai oleh banyak psikolog dan juga perusahaan untuk mengenali tipe karyawannya. 

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/10/21/182315920/apakah-tes-mbti-akurat-untuk-mengukur-kepribadian-seseorang

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.