Pascatsunami, Mari Evaluasi Gizi dan Edukasi

Kompas.com - 07/01/2019, 08:05 WIB
Warga melintas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang rusak akibat tsunami Selat Sunda di Kampung Nelayan, Labuan, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018). BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) melaporkan hingga Selasa (25/12) pagi jumlah korban meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda mencapai 481 orang, 1.216 orang luka, dan 67 orang lainya dinyatakan masih hilang. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/aww.MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS Warga melintas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang rusak akibat tsunami Selat Sunda di Kampung Nelayan, Labuan, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018). BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) melaporkan hingga Selasa (25/12) pagi jumlah korban meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda mencapai 481 orang, 1.216 orang luka, dan 67 orang lainya dinyatakan masih hilang. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/aww.

KOMPAS.com - Ketika orang merayakan gempita semarak Tahun Baru, ada sebagian rakyat kita yang berjibaku bertahan hidup selepas dihantam dahsyatnya tsunami.

Kondisi Labuhan di kabupaten Pandeglang amatlah jauh dari gambaran area rekreasi dan plesir yang selama ini kita bayangkan.

Penduduk yang biasanya melayani wisatawan dan memanjakan pendatang dengan berbagai suguhan kuliner pesisir dan keindahan pantai, sekarang justru menampilkan kenyataan sehari-hari yang ternyata tidak jauh beda dari masyarakat terdampak bencana di wilayah kepulauan Nusantara.

Sekalipun di sekeliling mereka kaya akan bahan pangan dan kemurahan alam, tapi hal itu seakan tidak nampak di mata mereka.

“Nyanyian klasik” permintaan warga di daerah terdampak bencana selain selimut, perlengkapan sehari-hari, dan makanan instan bagi orang dewasa, mereka juga mengajukan daftar ‘makanan bayi dan susu’ untuk bayi dan anak.

Baca juga: Keamanan Pangan dan Ketahanan Pangan: Di Dunia Manakah Kita?

Bahkan, setelah dapur umum didirikan untuk penduduk dewasa, bayi dan anak masih bertahan dengan makanan instan mereka. Tidak ada yang mengambil inisiatif dapur pemberian makan bayi dan anak.

Selidik punya selidik, ternyata memberi makanan jadi ke bayi dan anak sudah merupakan kebiasaan – bukan hanya di saat bencana.

Tidak ada satu pun ibu yang saya temui membuat bubur saring untuk bayinya. Apalagi membuat tim cincang.

Mengerti soal Makanan Pendamping ASI (MPASI) pun tidak. ASI ekslusif lebih membuat miris lagi. Rata-rata ibu mengeluhkan ASI-nya kurang bahkan berhenti, sejak ikut KB pil atau suntik.

Tidak ada yang tahu sama sekali bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan justru memberi perlindungan ampuh untuk tidak ‘kesundulan’ – alias hamil kembali.

Padahal mereka ibu rumah tangga, boleh dibilang 24 jam berada di sisi anak-anaknya, tidak bekerja di luar rumah.

Baca juga: “Germas” Masih Tahap Marketing: Menanti Disrupsi Terjadi

Saat pos Pemberian Makan Bayi dan Anak kami dirikan dan mengajak para ibu serta kader menyusun MPASI buatan sendiri yang sehat dan seimbang, mereka heran karena anak-anaknya makan dengan lahap dan sama sekali jauh dari kata ‘ribet’.

Dari pengetahuan nol yang mengira MPASI hanya bubur susu lalu bergeser menjadi campuran protein hewani, nabati, makanan pokok dan sayur serta buah – para ibu dan kader menyadari betapa mereka tertinggal (atau ditinggal?).

Halaman:



Close Ads X